Aktivis Ibu dan Anak Lala Komalawati

Jakarta, lalakomalawati.com - Kasus DJ Panda yang tengah viral di media sosial kembali menuai sorotan publik. Kontroversi ini bukan hanya menyangkut ranah hukum, tetapi juga menyentuh aspek moral, etika, serta dampaknya terhadap psikologi seorang ibu dan anak.

Aktivis sosial ibu dan anak, Lala Komalawati, menilai kasus ini harus menjadi pembelajaran penting bagi semua pihak, terutama bagi publik figur dan komunitas penggemar (fams) yang kerap terlibat dalam dinamika di balik layar dunia hiburan.

Tanggapan Lala Komalawati

Menurut Lala, publik figur memiliki tanggung jawab sosial yang besar. Segala ucapan maupun tindakan, baik di panggung maupun di media sosial, dapat memberikan pengaruh langsung kepada masyarakat. 

Karena itu, ketika menyangkut isu pribadi, apalagi yang melibatkan ibu hamil dan anak, seharusnya ada batas tegas yang dijaga.

“Kita harus ingat, ibu dan anak adalah kelompok yang rentan secara psikologis. Ketika nama baik dan privasi mereka diseret ke ranah publik, dampaknya tidak hanya ke reputasi, tapi juga pada kesehatan mental dan tumbuh kembang anak,” tegas Lala.

Pesan untuk Publik Figur dan Fams

Lala menekankan bahwa publik figur harus tahu batas antara kehidupan pribadi dan konsumsi publik. Hal-hal yang sensitif tidak seharusnya dijadikan bahan konten atau candaan.

Begitu juga dengan para penggemar (fams), ia mengingatkan agar tidak berlebihan dalam membela atau menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Fandom punya energi besar, tapi energi itu sebaiknya diarahkan untuk hal positif, bukan memperkeruh situasi. Kita harus paham, ada batas etika yang melindungi martabat dan psikologi seorang ibu serta anaknya,” ujar Lala.

Langkah yang Harus Dilakukan

Sebagai aktivis, Lala juga memberikan rekomendasi langkah yang sebaiknya diambil:

  • DJ Panda diminta bertanggung jawab penuh atas pernyataan dan konten yang sudah terlanjur beredar, serta memberikan permintaan maaf yang tulus.
  • Media dan masyarakat diharapkan berhati-hati dalam menyebarkan isu sensitif yang bisa menimbulkan trauma pada korban.
  • Komunitas penggemar diarahkan untuk menjaga batasan, agar tidak terjebak dalam fanatisme yang justru merugikan orang lain.

Penekanan pada Psikologi Ibu dan Anak

Lala menutup dengan penegasan bahwa kasus ini harus dilihat dari kacamata perlindungan psikologis ibu dan anak. 

“Kita merdeka ketika mampu menjaga ruang aman bagi ibu dan anak. Itulah tanggung jawab moral kita bersama, baik sebagai figur publik, media, maupun masyarakat luas,” pungkas Lala. Rill/Red@detikline.com